Merengkuh Rela
"Kadang, merelakan bukan soal melupakan—melainkan belajar berdamai dengan yang tak bisa lagi digenggam."
Kita gagal menemukan sampai,
namun rasa padamu belum selesai.
Sejak kau memilih pergi hari itu,
sunyi menempel, jadi kawan setiaku.
Kesunyian membuntutiku di sepanjang jalan,
tempat-tempat kita pernah singgahi melambaikan tangan.
Aku ditawari singgah sejenak di sana,
tapi hatiku masih penuh luka yang sama.
Menjelang lelap, wajahmu datang berulang,
mengetuk pikiranku, enggan hilang.
Kucoba mengusir, tak jua mau,
kau hidup di sana—di ruang benakku yang beku.
Aku ingin lupa, tapi tak bisa,
kau berdiam di antara jeda dan sisa.
Maka kuterima, meski perih menggema—
bahwa mencintaimu berarti belajar merengkuh… rela.